Situs Agen Slot Online Terbaik dan Terpercaya - Speedbet77
SPEEDBET77

BONUS HARI INI

BONUS 5% Setiap deposit Sportsbook

BONUS 3% Setiap deposit Casino

BONUS 10% UNTUK GAME BOLA TANGKAS

BONUS CASHBACK 5% Sportsbook

BONUS CASHBACK 3% CASINO SBOBET

PROMO BONUS 5% Setiap Deposit

PROMO BONUS REFERRAL SEUMUR HIDUP

BONUS Mingguan POKER ONLINE

Misteri di Balik Surat Sakti Pembuka Jalan Kekuasaan Soerharto

Misteri di Balik Surat Sakti Pembuka Jalan Kekuasaan Soerharto – 55 tahun yang kemudian hari ini( 11 Maret 1966), Soeharto menyambut Pesan Perintah Sebelas Maret( Supersemar). Sejarah Supersemar diselimuti oleh tuduhan pemalsuan sejarah, yang diyakini beberapa sejarawan membuka jalan bagi Soeharto untuk mengambil alih kursi kepresidenan.

Misteri di Balik Surat Sakti Pembuka Jalan Kekuasaan Soerharto

Sumber : liputan6.com

 Baca Juga : Berujung Kritik, Hilang Frasa ‘Agama’ di Visi Pendidikan 2035

imo2015 – Terbitnya Supersemar sendiri terpaut dengan aksi 30 September 1965 yang mengaitkan kandidat Partai Komunis Indonesia( PKI). Sehabis terbitnya” Supersemar”, para administratur serta partisan PKI dibekuk serta dibunuh di mana- mana.

Situasi Politik

(PKI) yang sangat dekat dengan Soekarno menghadapi pertentangan dengan Tentara Nasional Indonesia pada tahun 1965. Persaingan mereka dilakukan di bawah kepemimpinan berikutnya karena Soekarno dikabarkan sedang sakit.

Sebelum 1965, PKI dan TNI AD juga memiliki pendapat berbeda tentang pembentukan unit kelima yang terdiri dari pekerja pertanian bersenjata. Tentara Indonesia tidak setuju.

Sebelumnya, soal Majelis Umum yang terdiri dari para perwira militer senior yang ingin menjadi presiden dari Soekarno pada 1965. Panglima Angkatan Darat saat itu, Letnan Jenderal Ahmed Yani, terseret ke dalam masalah ini mungkin tidak benar.

Pada pagi hari tanggal 30 September 1965 atau 1 Oktober 1965 banyak perwira senior TNI AD yang terbunuh dan diculik di Jakarta.

Operasi itu dipimpin oleh Kolonel Untung, salah satu anggota Resimen Cakrabirawa dari Pengawal Presiden yang setia kepada Soekarno.

Perwira senior TNI AD yang diculik dan dibunuh antara lain Letnan Jenderal Ahmed Yani, Mayjen Sapetrap dan M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo.

Beberapa lainnya juga menjadi korban, yaitu Bripka Karel S. Tubun dan Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal A.H. Nasution. Kolonel Katamso Darmokusumo dan Letkol Sugiyono Mangunwiyoto juga menjadi korban Operasi Yogyakarta.

Pasukan yang dipimpin oleh Letkol Untung menguasai Radio Republik Indonesia dan menyiarkan berita tentang pembentukan Komite Revolusi untuk menekan Dewan Jenderal.

Namun, masih di hari yang sama, 1 Oktober 1965, pasukan TNI kembali menguasai Jakarta. PKI dituduh sebagai perencana kampanye 30 September.

Dalam persidangan yang dilakukan Pengadilan Militer Luar Biasa, Sjam Kamaruzaman yang mengaku sebagai Direktur Biro Khusus PKI mengungkapkan banyak pandangan tentang gerakan ini. Ia mengatakan bahwa ia merancang kampanye 30 September dan merekrut banyak prajurit TNI.

Supersemar

Setelah G-30-S meletus pada 30 September, situasi di Jakarta tegang. Selain itu, krisis ekonomi juga melanda Indonesia. Ada kekacauan dimana-mana.

Pada tahun 1966, sejak 21 Februari mahasiswa telah menyerahkan Tritura. Ketiga syarat tersebut adalah pembubaran PKI (yang dianggap sebagai penyebab tragedi G30S), reorganisasi kabinet Dwikora, dan penurunan harga.

Pada 11 Maret 1966, rapat kabinet 100 menteri merupakan rapat terakhir yang dipimpin oleh Soekarno. Soekarno diadili hanya sebentar, menyerahkan pimpinan pertemuan kepada Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II Leimana.

Karena Wakil Bung Karno, Kolonel Pol Sumirat, mendapat catatan dari Panglima Cakrabirawa, Brigjen Sabur. RUU itu menuntut Bung Karno segera melindungi dirinya. Kemudian Bung Karno berangkat dengan helikopter dan menempatkan dirinya di Istana Bogor.

Saat itu, situasi di Jakarta sedang memanas. Ribuan mahasiswa pindah ke Istana Kemerdekaan dengan tujuan membubarkan 100 Dewan Menteri.

Sehari sebelumnya, pada 10 Maret, Soeharto bertemu dengan Mayjen Amir McMud, Panglima Komando Militer Provinsi Jawa Timur (Pangdam), Mayjen Basuki Rahmat, dan Jenderal M. Yusuf.

Soeharto menyatakan siap menerima semua tugas Boncano untuk menyelesaikan krisis yang dihadapi negara. Ini termasuk masalah keamanan dan politik. Ketiga jenderal itu menyetujui Soeharto.

Sebagian dikala sehabis penutupan Konferensi Dewan menteri ke- 100, Bandan Berhasil Amir Mahmoud, Menteri Basuki Rachmat, Brigjen Pensiunan, serta Menteri Perindustrian Meter. Jusuf menemui Soeharto di rumahnya. Soeharto setelah itu menitipkan catatan pada Bung Karno yang mengungsi ke Kastel Bogor.

Setelah itu, mereka mengunjungi Soekarno di Istana Kepresidenan Bogor dan menyampaikan pesan Soeharto. Saat itu Soekarno diberikan kepada Supersemar dan diminta tanda tangan.

Wilardjito, salah satu pengawal Bung Karno, mengatakan sebenarnya ada empat jenderal yang bertemu dengan Soekarno. Salah satu jendralnya adalah M. Panggabean.

Ia mengaku melihat Panggabean mengarahkan senjatanya ke Soekarno, sehingga bisa segera menandatangani Supersemar. Banyak kesaksian Wilardjito yang membantahnya karena masih dalam posisi rendah.

Setelah itu, Soekarno menandatangani surat dan menyerahkannya kepada Pak Jusuf. Beberapa hari berikutnya, Soeharto menggunakan surat ini untuk mengatur pengamanan atas nama Soekarno.

Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan dalam bukunya “Menghapus Manipulasi Sejarah” bahwa mengetik surat perintah penangkapan masih menjadi masalah yang kontroversial.

Saya mengutip “Majalah Historia” oleh asisten intelijen kelompok Tjakrabirawa Ali Ebram, dan saya akui bahwa dia yang mengetik surat ini. seperti yang dilansir cnnindonesia.com

PKI Diberangus, Soeharto Naik Tahta

Sehari setelah penandatanganan surat tersebut, Soeharto langsung membubarkan Partai Komunis Indonesia sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 113 Tahun 1966. Kata Soharto saat membaca surat yang ditandatangani Bung Karno itu.

Enam hari kemudian, 15 menteri Bung Karno ditangkap karena dicurigai terlibat dalam peristiwa G30S. Termasuk Soebandrio dan Chaerul Saleh.

Tidak hanya itu, setelah PKI bubar, anggota PKI beserta keluarganya, simpatisan, dan orang yang tidak ada hubungannya dengan PKI dibantai.

Jumlah pasti korban pembantaian ini saat ini tidak pasti. Satu versi menyebutkan bahwa jumlah korban mencapai 800.000, 1.000.000. Angka tertinggi adalah pernyataan Sawro Edhi Wibowo yang menyebut 3.000.000 orang.

Terkait pembantaian tersebut, sejarawan Andi Achdian mengatakan ada penemuan baru. Dia mengatakan Jess Melvin, peneliti di University of Sydney, memperoleh dokumen milik Badan Intelijen Nasional (BIN) yang menunjukkan bahwa tentara terlibat dalam pembantaian tersebut.

Dokumen yang ditemukan oleh Jess Melvin di Banda Aceh menunjukkan bahwa TNI terlibat dalam penghancuran PKI hingga ke tingkat akar rumput.

Andy berkata: “Dokumen yang digunakan menggambarkan akar penyebab kehancuran PKI oleh tentara dengan sangat spesifik.”

 Baca Juga : Dugaan Fee Rp1 Miliar ke Anggota BPK Achsanul Qosasi Diusut KPK 

ANRI Masih Berburu Naskah Supersemar yang Asli

Sumber : m.kaskus.co.id

Eksekutif kewajiban( Plt) Vice Chairman of the Republic of Indonesia Pelestarian Arsip Republic( ANRI) Siswanti membenarkan arsip Pesan Perintah Sebelas Maret( Supersemar) yang dipunyai ataupun ditaruh saat ini tidak asli.

” Kita mempunyai arsip Supersemar tetapi itu dari berbagaiversi. Sesudah kita lihat dari autentikasinya tampaknya itu bukan arsip yang asli,” tutur beliau disaat perbincangan daring yang dipantau di Jakarta,

Ia mengatakan, pemerintah saat ini terus mencari dan menemukan berkas asli Supersemar melalui ANRI.

Dia berkata: “Kami masih mencari file.”

Buat memperoleh arsip- arsip berarti semacam Supersemar, ANRI melaksanakan beberapa usaha salah satunya menerbitkan catatan pencarian arsip. Untuk penguasa ataupun badan yang menghasilkan arsip terdapat suatu peranan yang mewajibkan memberikan arsip kepunyaannya ke ANRI.

Dengan cara biasa, arsip yang masuk ataupun tersembunyi ke ANRI tidak banyak cuma berkisar 9 sampai 10 persen saja paling utama yang betul- betul bermanfaat untuk riset.

Beliau berkata ANRI mempunyai suatu program ialah pengamanan arsip yang bermaksud melindungi akta ataupun arsip berharga asal usul.

” Itu dicoba dengan terdapatnya aktivitas pemerolehan arsip statis,” ucapnya.

Oleh karena itu, tidak semua arsip dari berbagai instansi dapat diterima atau diimpor ke ANRI sebagai sejarah masa lampau.

Setelah penyerahan, ANRI akan memeriksa proses evaluasi. Setelah itu akan ditentukan status arsip itu sendiri, apakah diserahkan ke ANRI atau dikembalikan ke lembaga pembuatnya.

Ia berkata: “Oleh karena itu, kami meningkatkan koleksi arsip dengan cara mendapatkan arsip dari pencipta.”